Jumat, 24 September 2010

Pelangi di mataku


Siang ini sayah pergi dari rumah. Sayah pergi dari rumah itu bukan berarti sayah minggat,tapi sayah pergi keluar kota untuk bermain dan bersenang2 yang bisa menghasilkan uang. Berangkat dari rumah sekitar pukul 2. Sayah tengok langit, cukup cerah,,,meski ada sedikit awan hitam menemani langit. Awalnya perjalanan berjalan biasa2 saja,,,tak ada hal yang menarik,,,hingga akhirnya sayah menemukan Sejumlah warna yang tak biasa ada di langit, Pelangi menyembul diantara awan hitam di langit, tepat di depan sayah persis.

Sayah pun berhenti sejenak,,,guna menikmati Pelangi yang sudah menyempatkan waktunya untuk sayah. Entah sudah berapa lama sayah tidak melihat keindahan Pelangi. Sayah pun tenggelam dalam pesona warna warni Pelangi.

Masih teringat dalam otak, bahwa dulu setiap kali hujan turun sayah selalu menunggu datangnya sang
Pelangi setelah hujan reda. Berlari kesana kemari guna menemukan titik dimana sayah dapat melihat Pelangi. Itulah hal yang sering sayah lakukan dulu. Sepele memang, tapi begitu menyenangkan.

Terkadang sayah merasa lucu dengan diri sayah sendiri, karena ada banyak hal yang sepele tapi begitu menyenangkan yang telah sayah tinggalkan. Sayah tinggalkan hanya karena sayah berpikir bahwa sayah sudah dewasa dan hal2 tersebut adalah untuk anak2 kecil. Bahwa ternyata sayah meninggalkan hal2 sepele tapi begitu menyenangkan karena sayah takut dianggap masih anak kecil.

Begitu banyak hal sepele di waktu kecil yang begitu menyenangkan tapi kita tinggalkan. Ada begitu banyak alasan memang, mengapa kita tidak melakukannya lagi. Tapi adakah yang berpikir seperti sayah dulu, bahwa hal2 sepele seperti main kapal kertas sembil hujan2an, berlari mencari
Pelangi, atau apapun itu adalah hal2 yang berlaku hanya di waktu kita kecil saja?


Semoga saja tidak. Karena sayah sekarang sadar bahwa sayah tak perlu memusingkan orang bilang apa tentang diri sayah, yang penting sayah tidak merugikan mereka dan tidak menyakiti perasaan mereka. Orang mau bilang sayah kayak anak kecil ya, terserah. Yang penting sayah bisa bersyukur atas karunia TUHAN dengan cara menikmati
Pelangi dan hujan itu sendiri.

Terima kasih untuk
Pelangi dan hujan.

0 komentar:

Posting Komentar